• Sabtu, 4 Desember 2021

Gangguan Stres Pasca Trauma: Guncangan Jiwa tak Kasat Mata, tapi Nyata

- Rabu, 20 Oktober 2021 | 18:36 WIB

Gambar 1. Ilustrasi (Sumber : Photo by DANNY G on Unsplash)


“Disuruh nikahin aja. Ya itu kan bentuk tanggung jawabnya”. Tak jarang kita mendengar ungkapan tersebut pada korban pemerkosaan, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Baru-baru ini juga, publik dihebohkan dengan penyambutan mantan penyanyi selepas keluar dari penjara. Padahal diketahui ia dipenjara karena melakukan pelecehan seksual. Lalu bagaimana perasaan para korban tersebut? Apakah mereka tidak akan teringat peristiwa keji tersebut ketika seorang korban pemerkosaan “dipaksa” hidup bersama dengan pemerkosanya? Apakah hidup mereka akan lebih baik setelah hidup bersama dengan pelakunya? Atau mungkinkah para korban menjadi lebih tertekan hingga membuat mereka mengalami masalah kesehatan, baik fisik maupun psikis? Hampir seluruh korban akan merasakan stres akibat dari kejadian traumatis yang dialaminya. Fenomena ini dinamakan gangguan stres pasca trauma atau post traumatic stress disorder (PTSD).


Gangguan stres pasca trauma atau post traumatic stress disorder (PTSD) merupakan gangguan mental yang dialami seseorang ketika terpapar suatu peristiwa traumatis yang sangat mengancam atau membahayakan. Peristiwa tersebut dapat berupa kecelakaan, bencana alam, pengalaman mendekati kematian, pertempuran, pelecahan seksual, pemerkosaan, konflik interpersonal, atau setelah mengalami penyakit yang parah. Terdapat tiga gejala khas pada orang yang mengalami PTSD:
1. Pengulangan kejadian atau flashback. Saat gejala ini terjadi, mereka akan merasa peristiwa “mengerikan” itu terulang kembali disertai dengan reaksi emosi dan fisik berlebihan. Ditambah lagi, ada kemungkinan orang tersebut mendapat mimpi buruk atau nightmares tentang kejadian tersebut.
2. Penghindaran dan emosional yang dangkal. Gejala ini ditunjukkan dengan menghindari aktivitas, tempat, situasi, percakapan, dan hal lain yang berhubungan dengan trauma.
3. Sensitivitas dan keterjagaan yang meningkat (hyperarousal). Pengidap PTSD akan merasa susah tidur, mudah marah, susah berkonsentrasi, peningkatan kewaspadaan, dan adanya reaksi yang berlebihan terhadap segala sesuatu.

Baca Juga: Langkah Awal Tangani Keracunan Pestisida pada Petani


Kejadian PTSD mengikutsertakan perubahan neurotransmitter, neuroendokrin, serta sistem kekebalan tubuh. Seseorang yang mengidap PTSD dapat memiliki kadar kortisol yang normal maupun rendah dan terjadi peningkatan kadar corticotropin-releasing factor (CRF). CRF akan merangsang pelepasan norepineprin di korteks singulata anterior. Hal ini akan meningkatkan respon simpatis yang berdampak menjadi peningkatan denyut jantung, tekanan darah, dan keterjagaan (hyperarousal). Penelitian lain juga menyebutkan terjadi penurunan aktivitas GABA dan peningkatan glutamat yang mengakibatkan disosiasi dan derealisasi. Selain itu, terjadi penurunan serotonin di raphe dorsalis. Ini memungkinkan adanyan perubahan dinamika antara hipokampus dan amigdala.


Pada kondisi yang sama, jalur respon stres dari aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA) dan sistem saraf simpatis diaktifkan. Sehingga menyebabkan pelepasan abnormal glukokortikoid dan katekolamin. Glukokortikoid memiliki efek imunosupresi, peningkatan metabolisme, dan penghambatan feedback negatif aksis HPA dengan berikatan pada reseptornya. Dengan adanya pelepasan abnormal ini, terjadi gangguan sistem kekebalan tubuh dan respon inflamasi. Sebuah meta-analisis terbaru mendapatkan peningkatan kadar plasma sitokin proinflamasi seperti TNF-α, IL-1β, dan IL-6 pada individu dengan PTSD dibandingkan kelompok kontrol.
Mekanisme perubahan neurotransmitter, neuroendokrin, dan sistem kekebalan tubuh memainkan peran penting dalam kesehatan fisik dan psikis. Individu dengan PTSD memiliki risiko yang lebih tinggi terkena gangguan somatoform, penyyakit kardiorespirasi, muskuloskeletal, gastrointestinal, dan gangguan sistem imun. Hal ini juga melibatkan komorbiditas psikiatri yang substansial dan peningkatan risiko bunuh diri.


Terapi yang dapat diberikan kepada pengidap PTSD tidak jauh berbeda dengan terapi pada orang dengan gangguan jiwa lainnya. Terdapat dua macam terapi, yakni farmakoterapi dan psikoterapi.

Farmakoterapi berfokus pada obat-obatan yang dapat diberikan, seperti antidepresan, antipsikotik, antikonvulsan, dan benzodiazepin. Sedangkan psikoterapi berfokus pada penyembuhan trauma yang dialami. Terapi ini dianggap sebagai pengobatan lini pertama yang efektif, mencakup terapi perilaku kognitif (CBT), desensitisasi dan pemrosesan ulang gerakan mata (EMDR), terapi pemrosesan kognitif (CPT), terapi kognitif (CT), restrukturisasi kognitif (CR), terapi keterampilan mengatasi (termasuk terapi inokulasi stres), terapi berbasis paparan, hipnosis dan hipnoterapi, serta psikoterapi eklektik singkat. Untuk lebih jelasnya, terapi PTSD dapat diringkas menjadi gambar di bawah ini.

Halaman:

Editor: Ahmad Kodri Riyandoko

Tags

Terkini

X