Penyakit Epilepsi Bukan Keterbelakangan Mental, Jangan Pernah Jauhi Pasien

- 5 Februari 2021, 06:04 WIB
Ilustrasi epilepsi, yang disebabkan oleh kelainan yang terjadi pada otak. /Pixabay.com/geralt

“Epilepsi, yang lebih familiar dikenal masyarakat sebagai kejang atau ayan, bisa disembuhkan. Tergantung jenis epilepsi yang diderita. Asalkan penderita meminum obat secara terkontrol dan rutin serta menghindari faktor pencetus.

Terkadang, pasien menjadi bosan jika harus meminum obat terus-menerus. Untuk itu perlu diadakannya edukasi terhadap pasien, jika sudah bebas kejang selama minimal 3 tahun, obat akan diturunkan sampai dosis minimal. Semakin lama dosis diturunkan akan segera bisa untuk tidak perlu minum obat,” terangnya.

Menurut Azham, faktor pencetus epilepsi yang perlu dihindari. Misalnya, kelelahan, emosi, dan sering menonton televisi atau menggunakan handphone sampai larut malam. Inilah yang dapat menimbulkan kejang.

Baca Juga: Santan Bisa Picu Kolesterol dan Diabetes? Ini Hasil Riset FK Universitas Jember yang Tak Terduga

Sementara, katanya, ada beberapa macam penyebab epilepsi. Antara lain adalah ibu terinfeksi TORCH atau penyakit toksoplasma, rubella, cytomegalovirus, dan herpes selama kehamilan, pasca melahirkan, dan setelahnya.

Epilepsi, sambung dia, tidak selalu muncul pada saat usia anak-anak. Sebab, bisa saja terjadi pada remaja dan orang usia lanjut. Itulah sebabnya pada saat hamil, ibu disarankan untuk memeriksakan diri.

Faktor lainnya adalah kehamilan yang tidak diinginkan. Si ibu melakukan aborsi dengan konsumsi obat-obatan atau jamu sehingga perkembangan kehamilannya terganggu. Akhirnya pada saat kelahiran, bisa terjadi gangguan. Salah satunya kejang.

Penyebab lainnya adalah saat melahirkan terjadi kemacetan akibat lilitan tali pusar. "Bisa juga pernah terinfeksi radang otak, bayi kuning saat lahir, dan kejang demam yang berulang terus menerus berpotensi menjadi epilepsi pada usia dewasa," tuturnya.

Baca Juga: Sembelit pada Bayi Baru Lahir, Inilah yang Harus Diperhatikan Bunda

Azham memastikan, epilepsi tidak menular dan tidak ditularkan. Baik melalui napas atau pun bekas alat makan. Orang dengan epilepsi (ODE) pada dasarnya sama dengan orang biasa. Sehingga, tidak perlu dibedakan agar penderita bisa hidup normal.

Halaman:

Editor: Hari Setiawan


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X