Penyakit Epilepsi Bukan Keterbelakangan Mental, Jangan Pernah Jauhi Pasien

- 5 Februari 2021, 06:04 WIB
Ilustrasi epilepsi, yang disebabkan oleh kelainan yang terjadi pada otak. /Pixabay.com/geralt

AGROMEDIS – Setiap 8 Februari diperingati sebagai Hari Epilepsi Internasional. Stigma negatif dari masyarakat terhadap penderita epilepsi memunculkan berbagai macam mitos.

Ada yang menganggap epilepsi sebagai penyakit keturunan, penyakit guna-guna, atau penyakit kutukan. Padahal, tidak semua penyakit dapat diturunkan.

Sama seperti penyakit lain, jika orang tua memiliki suatu penyakit, tidak selalu keturunannya mempunyai penyakit yang sama.

Baca Juga: Kenali Gejala Infeksi Kecacingan pada Tubuh, Mulai yang Disebabkan Cacing Gelang sampai Kremi

Epilepsi adalah kelainan pada otak. Yakni, terganggunya otak aktivitas listrik yang meningkat, sehingga terjadilah kejang.

Dijelaskan pakar neurologi dr Azham Purwandhono, M.Si, Sp.S., yang juga merupakan pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Jember (FK Unej), penderita epilepsi boleh menikah dengan orang yang tidak menderita epilepsi.

Namun, kata dia, yang harus dipersiapkan adalah ketika seorang perempuan yang akan menikah menyandang epilepsi. Karena epilepsi bisa kambuh selama kehamilan.

Mitos bahwa penderita harus minum obat terus-menerus, kata dia, tidak selalu tepat. Diakuinya, ada yang memang perlu minum obat meskipun dengan dosis yang kecil dan ada juga yang tidak perlu.

Baca Juga: Anus Bayi Baru Lahir, Orang Tua Perlu Memastikan Ada dan Bentuknya Normal

Halaman:

Editor: Hari Setiawan


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X