• Rabu, 22 September 2021

Petani Banyak Terabaikan, Fakultas Kedokteran Universitas Jember Konsen sebagai Pusat Kedokteran Pertanian

- Selasa, 2 Februari 2021 | 21:06 WIB
Petani memanen padi di Desa Limpok, Kecamatan Krueng Baruna Jaya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Selasa, 2 Februari 2021. (Antara Foto/Ampelsa)
Petani memanen padi di Desa Limpok, Kecamatan Krueng Baruna Jaya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Selasa, 2 Februari 2021. (Antara Foto/Ampelsa)



AGROMEDIS - Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Jember (Unej) menjadi satu-satunya FK yang terbesar di Jawa Timur bagian timur.

Untuk memperkuat positioning di ilmu kedokteran, FK Unej menempatkan dirinya sebagai pusat kedokteran pertanian di Indonesia.

Dekan FK Unej dr Supangat, Sp.BA, M.Kes, Ph.D., mengatakan, ada sejumlah alasan mengapa FK Unej menempatkan dirinya sebagai pusat kedokteran pertanian.

Ia mengatakan, alasan pertama adalah kesejarahan. Awalnya ada sebuah filsafat “botol kosong dan kelapa”. Masing-masing rumah menyerahkan satu buah biji kelapa dari masing-masing petani kepada pendiri Unej.

Sempat berdiri FK di zaman Unej masih bernama Universitas Tawangalun (Unita), FK sempat ditutup. Lalu, di era Prof Sunaryo yang guru besar pertanian, FK kembali didirikan.

"Dengan peran serta yang sangat penting dari sejarah yang melibatkan petani inilah telah mendarah daging bahwa jiwa petani ada dalam diri para dokter di fakultas kedokteran," kata Supangat.

Alasan kedua adalah fakta empiris. Supangat mengatakan, Indonesia merupakan negara agraris dengan presentase 34 sampai 35% penduduknya berprofesi sebagai petani.

"Sehari-hari masyarakat Indonesia mengonsumsi produk pertanian, yang membuat civitas akademika di fakultas kedokteran memikirkan kesehatan masyarakat dan pelaku pertanian," tuturnya.

Alasan ketiga adalah pertimbangan pentingnya kesehatan petani. Petani memiliki beberapa karakteristik pada kondisi fisiknya dan adanya resiko penyakit tertentu yang spesifik.

“Contohnya adalah perubahan pada tulang punggung setelah beberapa tahun akibat kebiasaan mencangkul, resiko tergigit ular, resiko keracunan akibat pestisida, hingga penyakit menahun lainnya.

"Juga resiko-resiko jangka pendek maupun jangka panjang yang lebih besar peluangnya dibandingkan masyarakat perkotaan atau yang tidak melakukan aktivitas pertanian,” terangnya.

Sejumlah alasan inilah yang melatarbelakangi mengapa FK Unej konsen pada kesehatan pertanian. Selain itu, belum banyak lembaga yang konsen terhadap kesehatan pertanian.

"Dengan tujuan demi memberi perhatian khusus terhadap petani, maka perlu adanya pengkajian secara spesifik oleh para dokter yang berkonsentrasi terhadap kesehatan petani.

"Mulai dari kondisi lingkungan kerja petani yang berpotensi dapat menyebabkan gangguan kesehatan hingga adanya penyakit bawaan dari petani itu sendiri," cetus dokter yang menyelesaikan pendidikan S3 di Korea Selatan ini.***

Editor: Hari Setiawan

Tags

Terkini

X